31 Desember 2013

Pergantian Tahun

Dari tempatnya berdiri, si bunga biru dapat melihat sinar-sinar kembang api dan sayup-sayup suaranya nan jauh di sana. Penantiannya tak berbuah manis. Pria itu tidak datang.
Apa mau dikata, si bunga biru hanyalah bunga liar dan pria itu adalah manusia, dunia mereka sudah berbeda.
Samar-samar warna si bunga biru semakin pudar. Air matanya menetes pilu.
Terkadang bunga itu berharap agar menjadi bunga biasa. Tidak ingin menjadi bunga ajaib yang memiliki perasaan. Tapi pada akhirnya, ia tetap mensyukuri apa yang dikaruniakan Tuhan padanya.

Bukan ketiadaan dirinya yang membuatnya sedih, tapi pikiran tentang perasaan yang takkan pernah tersampaikan itulah yang membuatnya hancur. Dia tidak akan pernah bisa bertemu pria itu lagi.

Raganya sebagai bunga pun sudah sepenuhnya hilang. Jiwanya terbang sejenak di atas awan, dari atas dilihatnya pria itu berdiri di lapangan bersama ratusan orang lainnya sedang menikmati kembang api. Ada seorang perempuan di sampingnya, manusia tentunya.
Sebelum jiwanya bersatu dengan angin, bunga itu sempat meneteskan air matanya sekali lagi.
"Selamat tinggal..."
.
.
.
.
.
Pria itu merasakan sesuatu menetes di rambutnya. Dia mendongak ke atas, memang agak mendung. Dia lalu melanjutkan menikmati hingar bingar pergantian tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar