02 April 2013

Aku... Hanya penasaran

Aku punya sebuah cerita, terjadi ketika kira-kira umurku belum mencapai 10 tahun. Mungkin 8.

Subuh yang tenang dan cukup dingin dihari Minggu, aku dan beberapa temanku sekampung pergi jalan-jalan, atau mungkin kalian lebih mengerti kalau aku sebut jogging. Kami berjalan sejauh 1 km, lalu sampai di daerah di mana toko-toko kecil berjejeran, dari rumah makan, tempat fotocopy sampai potong rambut. Di depan sebuah warteg ada kursi yang diletakkan memang sengaja di pinggir jalan. Aku dan teman-temanku duduk sejenak di situ untuk beristirahat. Warteg itu pintunya baru di buka setengah, maklum masih subuh, memperlihatkan sebuah lemari es kaca dari produk minuman bersoda warna merah.
Lemari es itu ada di depan pintu, di dekatku. Aku membukanya dan memasukkan tanganku perlahan ke dalamnya. Tiba-tiba pemilik toko muncul tergopoh-gopoh sambil berteriak "heh ojo ngono! tugel lho tanganmu!" (hei jangan! patah lho tanganmu!)
Aku memandangnya sejenak lalu menutup lemari es itu dan pergi menjauh meninggalkan warteg itu bersama teman-temanku.

Baru beberapa bulan ini aku menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu.
Waktu itu aku belum punya lemari es di rumah. Ketika aku melihat lemari es itu di warteg aku penasaran. Kumasukkan tanganku untuk merasakan hawa dinginnya. Ya, aku penasaran bagaimana rasanya jika tangan dimasukkan ke dalam lemari es? Apakah rasanya akan sama seperti di kutub utara? yang sering aku liat di layar kaca.
Dan setelah aku pergi dari warteg itu karena pemilik warteg yang tiba-tiba muncul dengan wajah yang menurutku tidak ramah, aku selalu bertanya-tanya, apakah benar hanya terjepit pintu lemari es tangan bisa patah?

Kini aku menyadari, pemilik warteg itu mengira bahwa aku berniat mengambil dagangannya yang ada di dalam lemari es kaca itu. Ya, itu! aku baru menyadarinya
Pantas saja pemilik warteg itu terlihat marah, kukira dia ingin memperingatkanku bahwa pintu lemari es memang berbahaya.


Well, begitulah... Tak perlu terlalu berburuk sangka guys. Anak-anak kecil sebenarnya belum tahu apa-apa tentang kelicikkan dunia, mereka tak sama dengan orang dewasa yang penuh tipu daya.


4 komentar: